Mengajar dengan Hati, Memahami dengan Empati: Refleksi Guru di Kelas yang Beragam
Pengalaman, pengajaran dan pembelajaran
Pagi di sekolah dasar selalu penuh dengan kejutan, ada yang baru datang lalu tersenyum lebar, ada yang berlarian tak tentu arah, ada yang menangis karena hal kecil. Di tengah hiruk pikuk dan keriuhan itu, saya serng merenung. Ruang kelas ini bukan sekadar ruang berisi meja dan kursi tempat anak - anak duduk manis mendengarkan pembelajaran semata. Kelas adalah rumah bagi berbagai macam keunikan yang sering kali tidak tertulis di panduan buku belajar manapun.
Coba perhatikn sudut kelas kita, sering kali terdapat satu anak yang seolah punya baterai yang tak pernah habis. Kakinya terus bergerak, tangannya mengetuk - ngetuk meja, dan matanya dengan cepat beralih dari papan tulis ke cicak yanmg merayap di dinding. Dulu mungkin naluri pertama kita ingin menegurnya, " ayo duduk yang tenang! . Namun, perlahan empati membuka mata kita. Otak anank dengan ADHD memang memperoses sekelilingnya dengan cara yang berbeda. Gerakan tubuhnya itu bukan karena ingin nakal atau membangkang, tapi justru itulah usahanya untuk bisa bertahan dan tetap fokus. Menghadapinya membuat kita sadar bahwa diam bukanlah satu - satunya cara untuk belajar.
Lalu ada nak kita yang tampak memiliki dunianya sendiri. Ia mungkin enggan menatap mata kita, menutup telinganya rapat - rapat saat suara di kelas mulai riuh, atau tiba - tiba menangis histeris hanya karena jadwal pelajaran hari itu berubah mendadak. Bagi anak autism dunia luar ini kadang terlalu beirsik dan mengejutkan. Mendekatinya butuh kelembutan dan kesadaran ekstra. Namun, apanila kita berhasil menemukan kunci untuk masuk ke dalam dunianya, lewat obrolan panjang dan hewan favoritnya, kita akan melihat betapa tulusnya mereka.
Berdiri di depan mereka semua setiap hari sungguh mengubah cara saya memandang profesi ini.
Tanggapan (0)
Belum ada tanggapan. Jadilah yang pertama menulis.